Cerita Cinta tak selalu milik dua orang. Bukan hanya cerita indah tentang aku dan dirimu. Tapi kadang ada juga orang ketiga yang sengaja diundang. Maka cinta tak lagi indah saat harus bercerita tentang aku,     dirimu, dirinya. Dan cinta tak cuma ada di hatimu. Cinta juga ada di sini.
Di Antara Kebahagiaan, Cinta dan Perselingkuhan.
Sebuah buku diangkat menjadi sebuah film atau sinetron tentu sudah biasa. Lagu yang sengaja dicipta sebagai soundtrack film juga sudah banyak. Tapi bagaimana jika sebuah lagu dituturkan ulang ke dalam sebuah buku ?. KAHITNA telah melakukannya.
13118389942013144540.
Menggandeng penerbit buku Gramedia, KAHITNA kembali menghadirkan karya istimewa untuk para penggemarnya. Senin 25 Juli 2011 kemarin, mereka meluncurkan buku berjudul “DI ANTARA KEBAHAGIAAN, CINTA DAN PERSELINGKUHAN”.Sebuah karya yang menjadi bagian dari rangkaian 25 tahun kiprah KAHITNA di blantika musik Indonesia.
Di Antara Kebahagiaan, Cinta dan Perselingkuhan adalah sebuah kumpulan cerita pendek (cerpen) bertema cinta yang sebagian besar digali dari pengalaman serta kenangan – kenangan banyak orang yang terinspirasi oleh lagu-lagu KAHITNA. Isi ceritanya tak lepas dari lagu-lagu KAHITNA. Bahkan judul setiap cerpen nya persis sama dengan judul hits-hits cinta KAHITNA seperti Aku Dirimu Dirinya, Tak Sebebas Merpati, Sampai Nanti, Batal Suka, Takkan Terganti, Untukku dan lain-lain.
Mereka yang “curhat” di dalam buku setebal 173 halaman ini tak cuma KAHITNA yang diwakili Yovie Widianto, Carlo Saba, Hedi Yunus dan Mario Ginanjar, tapi juga beberapa selebritis dan soulmateKAHITNA seperti Tia Ivanka, Iwet Ramadhan, Angga (Maliq & d’Essentials) dan Indra Brasco. Buku ini juga dipoles oleh dua orang profesional yakni Kunto Wibisono dan Benny Benke.
Dengan sampul abu-abu (yang mengingatkan saya pada novel Mira W “Cinta Berkalang Noda”), buku ini berusaha mengintrepretasikan ulang gagasan-gagasan KAHITNA yang telah lebih dulu diungkapkan melalui lagu-lagunya. Bahwa banyak keindahan yang dihadirkan oleh cinta dan mereka yang saling mencintai. Namun cerita cinta juga tak selalu indah dan berakhir dengan KEBAHAGIAAN. Ada sisi kelam yang dilahirkan dari sebuah hubungan cinta. Sisi kelam yang oleh buku ini disimbolkan dengan kata PERSELINGKUHAN. Cinta juga bukan semata hubungan kisah kasih antara seorang wanita dan laki-laki, tapi juga kisah ketulusan cinta ibu dan anak. Itu juga diceritakan dalam buku ini.
Meski sudah banyak novel yang mengangkat ruang tema cinta, kumpulan cerpen ini tetap layak diapresiasi dengan beberapa alasan. Pertama, karya ini dihadirkan oleh sebuah grup band besar Indonesia yang boleh dibilang sebagai yang terbaik dalam menceritakan realita cinta. Kedua, jika banyak pesohor yang menandai ulang tahunnya dengan membuat biografi dan menjual romantisme dirinya sendiri, maka KAHITNA justru memilih sebuah kumpulan cerpen dengan memberikan ruang kepada orang-orang tercinta di sekitar mereka untuk ikut mencurahkan kreativitasnya. Ketiga, karena berisi pikiran banyak orang, maka buku ini mempunyai rasa yang beragam meski benang merahnya sama yakni cinta.
13627408591466376437
Berisi 25 cerita pendek, buku ini dibuka dengan pengantar dari KAHITNA. Secara singkat mereka bersyukur dan menyampaikan terimakasih serta penghargaan tak terhingga kepada orang-orang tercinta, termasuk para penggemarnya yang membuat KAHITNA “selalu ada” selama 25 tahun terakhir. Karya ini dipersembahkan untuk para pecinta KAHITNA yang mereka nilai telah memberikan banyak inspirasi kapanpun dan di manapun.
Berikut ini adalah sinopsis singkat beberapa cerita dalam buku tersebut.
Aku, Dirimu, Dirinya. Inilah cerpen pembuka buku ini. Cerita Kunto Wibisono ini mengambil suasana pernikahan. Tanpa bertele-bertele cerpen ini mengisahkan seorang laki-laki yang menghadiri pernikahan wanita bernama Maharani, sosok yang sesungguhnya masih bertahta dalam hatinya. Setting utama cerita ini sangat sederhana, yakni “hanya” di dalam antrian tamu menunggu kesempatan menyalami pengantin. Dalam masa-masa itulah tokoh utama, melalu narasi Kunto, berusaha membawa pembaca ke dalam sejarah cintanya bersama Maharani. Tidak terlalu njlimet, tapi cukup bisa menggambarkan perasaan tokoh utama tersebut hingga akhirnya tiba baginya menyalami Maharani di mimbar pengantin. Sebuah ucapan dia tinggalkan pada wanita itu. “Selamat ya, Maharani”. Cerita ini memang agak berbeda dengan skenario dalam versi lagunya. Akan tetapi benang merahnya tetaplah sama yaitu sebuah pesan tentang ketegaran menerima “takdir” dengan tetap percaya bahwa “Cinta Tak Pernah Salah”.
Andai Dia Tahu. Cerita kedua ini masih karya Kunto. Sejak membaca kalimat pertamanya, tampak sekali cerpen ini ingin mengambil secara utuh cerita dalam video klip lagu Andai Dia Tahu. Adalah May, wanita cantik sederhana berambut kepang kuda yang “berstatus” murid pindahan baru di sebuah sekolah. Lalu sepeda kumbang yang dimasukkan ke dalam jalan cerita. Ada juga tokoh murid kaya yang berusaha berulang kali merebut perhatian May meski akhirnya gagal.
Dan tokoh utama di sini digambarkan sebagai seorang laki-laki yang diam-diam jatuh hati kepada May namun tak sanggup menunjukkan perasaannya itu secara gamblang. Persis sama dengan jalan cerita lagu dan video klip Andai Dia Tahu. Kelihatannya demikian. Tapi ternyata tidak, setelah pembaca diajak menyimak berbagai jalinan indah yang terjadi antara tokoh utama dan May, penulis ternyata menutup cerita dengan “sederhana”, secara “sad ending”. Selepas lulus SMA, May melanjutkan studi di Jepang dan pada akhirnya menjalin kasih dengan seorang laki-laki yang dia jumpa selama di Jepang. Itu belum cukup, penulis masih berusaha mengaduk-ngaduk perasaan seakan menambah kesan “tragis” cerita ini. Hayati saja sendiri cuplikan kalimat berikut : “…..di status facebookmu, kau tulis status Happy…..Dan, jawabannya kutemukan hari ini. Ada fotomu bersama seorang pria, dan kau ubah hubungan berpacaran dengan Monza…”.

Batal Suka. Inilah cerita ketiga karya Tia Ivanka, bintang sinetron dan bintang iklan yang sejak lama dikenal sebagai sahabat KAHITNA. Cerpen ini bertutur tentang cerita seorang wanita yang pada akhirnya memutuskan untuk memilih jalan yang berbeda dengan kekasihnya. Sebuah pesan tersirat dalam novel ini menunjukkan bahwa pada akhirnya sebuah hubungan percintaan yang tampak begitu mulus dan sempurna tak selalu menghadirkan cinta yang seimbang di kedua belah pihak yang bermain. Dan di sinilah kita diajak merenung ketika cinta tak juga tumbuh secara utuh di dalam hubungan itu, maka perpisahan menjadi jalan keluarnya.
Jalan cerita Batal Suka ini sebenarnya tidaklah sama dengan jalan cerita lagunya. Tapi itulah hal yang istimewa karena sebuah judul mampu menghadirkan berbagai inspirasi dengan intrepretasi yang berbeda-beda pula.
Cantik. Cerita keempat ini kembali ditulis oleh Kunto. Mengisahkan tentang seorang laki-laki bernama Kresno yang jatuh cinta pada seorang wanita bernama Lembayung. Dalam ceritanya penulis mengisahkan Kresno yang pandai melukis menjalani masa-masa jatuh cintanya kepada Lembayung lewat aktivitas melukis. Lukisan gambar Lembayung itupun akhirnya mengantarkan Kresno menjadi laki-laki pendamping Lembayung yang pada perjalanannya Kresno panggil dengan nama “Cantik”. Di saat cerita sepertinya berakhir happy ending, penulis justru menutup cerita dengan kalimat yang tak terduga. “Aku beruntung bisa menikahinya. Meski harus kuhadapi kenyataan, hidupnya takkan lama. Dia menderita leukimia”.
Sampai Nanti. Cerita ini dituturkan oleh Mario Ginanjar. Berkisah tentang sepasang kekasih yang telah merasa satu sama lain takkan terpisahkan. Sampai pada akhirnya  harus berpisah jarak yang jauh, salah satu di antara mereka memilih untuk “membebaskan” pasangannya dan menyerahkan cinta mereka pada nasib dan jalinan waktu. Sementara yang lain masih percaya cintanya takkan diganti oleh siapapun . Kesetiaan mereka pun saling diuji oleh waktu.
Tak Sebebas Merpati. Sebuah cerita karya Indra Brasco dan Mona Ratuliu ini lebih tepat disebut sebagai testimoni cinta. Namun demikian, meski hanya ditulis dalam 3 halaman, testimoni ini justru saya nilai sebagai salah satu cerita paling menyentuh yang ditulis “apa adanya” dalam buku ini. Dengan gaya bahasa yang mengalir, meski sedikit puitis, Indra membagi rasa bersyukurnya bisa menjadi pendamping hidup Mona. Kebahagiaan itu menjadi lebih indah dengan rasa pengertian Mona yang selalu seiring sejalan bersama mengarungi rumah tangga meski awalnya hubungan itu seperti hal yang tak mungkin. Indra merasa dirinya “tak sebanding” dengan Mona. Namun keyakinan dan kekuatan cinta akhirnya membawa mereka terbang merengkuh kebahagiaan. Terbang tinggi bersama meski tak sebebas merpati.
Takkan Terganti. Kunto Wibisino mengambil judul ini untuk karya berikutnya. Karya yang istimewa karena di sini dia tak menuturkan cinta sepasang kekasih atau suami istri. Melainkan kisah cinta seorang ibu dan anak yang begitu menyentuh. Tak usah dibahas panjang lebar. Siapapun pasti akan setuju jika cerita tentang kasih sayang seorang ibu selalu menjadi kisah cinta paling abadi dan Takkan Terganti oleh apapun. Begitupun cerpen ini menceritakannya dengan jalan cerita dan caranya sendiri.
Di Rantau. Jika Tak Sebebas Merpati lebih mirip sebagai sebuah testimoni, maka Di Rantau ini lebih mirip sebagai pandangan atau pendapat penulis tentang kesetiaan. Secara tersirat Hedi Yunus menuangkan gagasannya bahwa kesetiaan adalah kekuatan utama dan tak ternilai dari sebuah hubungan. Bahwa kesetiaan sudah sering disisihkan dalam percintaan masa kini. Kesetiaan harusnya tidak dianggap sebagai beban dalam sebuah hubungan. Hedi saya rasa berusaha mengingatkan pembaca dan mereka yang mulai “manggampangkan” kesetiaan untuk kembali menempatkannya ke hati masing-masing. Cerita ini bisa jadi menyindir mereka yang terlalu gampang menyerah dengan alasan-alasan yang sebenarnya merupakan bentuk kegagalan menjaga kesetiaan. Dan alasan yang diangkat dalam cerita ini adalah jarak. Sasarannya adalah long distance relationship (LDR). Saat seseorang di tanah rantau terpisah dengan belahan hatinya, kesetiaan adalah penjaga terbaik cinta mereka. Sebuah renungan sederhana namun kaya makna. Itulah yang dituliskan Hedi dalam ceritanya ini.
Soulmate. Inilah karya pemenang sayembara penulisan cerpen yang sengaja dibuat untuk melengkapi buku ini. Cerita ini ditulis oleh Dhewi Bayu Larasati dan menjadi cerpen “terpanjang” dalam buku ini. Soulmate berkisah tentang seorang laki-laki berusia 19 tahun yang kembali ke kota lamanya dan bertemu dengan seorang gadis bernama Tara. Konflik dalam cerita ini tak jauh beda dengan isi lagu Soulmate. Laki-laki itu perlahan jatuh hati pada Tara. Sementara dirinya sadar kalau telah terikat janji lebih dulu dengan Rani, kekasihnya. Rasa cintanya pada Tara semakin hari semakin tumbuh. Sepanjang itu pula dia sejenak melupakan Rani. Apalagi Tara juga begitu bahagia dengannya. Dan ketika cinta itu telah membawanya pada keyakinan akan belahan jiwa, takdir berkata lain. Tara yang sudah sejak lama mengidap sakit akhirnya pergi.
Mantan Terindah. Kali ini giliran Yovie Widianto menuliskan ceritanya. Membaca cerita ini kita bagai membaca narasi lagu dan video klip Mantan Terindah. Nyaris sama. Yoga seorang mahasiswa yang jago bermain piano adalah laki-laki yang tak sulit mendapatkan wanita. Setelah beberapa kali berpindah hati, dia menemukan seorang wanita bernama Dewi. Wanita itu akhirnya menjadi kekasihnya. Cintanya yang dalam pada wanita itu membuatnya sukar menerima kenyataan ketika akhirnya Dewi memutuskan berpisah. Diam-diam Dewi pindah kuliah ke Yogyakarta. Waktu berjalan dan Yoga akhirnya menemukan Rani, pengganti Dewi. Dan seperti cerita dalam video klipnya, mereka bertiga dipertemukan dalam pesta pernikahan Yoga dan Rani. Dewi datang dengan masih menggunakan sebuah benda pemberian Yoga yang masih setia dia simpan.
Suami Terbaik. Penggemar lagu-lagu KAHITNA mungkin bertanya-tanya dengan cerita ini. Diambil dari lagu apa ?. Benar, Suami Terbaik memang cerita yang diambil dari lagu yang belum dirilis di album KAHITNA yang manapun. Ditulis oleh Yovie Widianto, cerita ini berkisah tentang seorang laki-laki bernama Arya yang menjalani hidupnya sebagai single parent untuk putrinya. Istri yang dicintainya telah meninggal dunia. Konflik dalam cerita ini muncul dengan adanya tokoh Maria, wanita yang bekerja sebagai pengasuh Dista. Serangkaian mimpi dan kejadian membuat Arya merasa Maria adalah sosok pengganti istrinya. Di sisi lain kesetiaanya pada istrinya yang sudah tiada juga berusaha ditonjolkan dalam cerita ini. Lalu apa yang terjadi ?. Meski ingin menunjukkan ending cerita ini, namun Yovie justru kelihatannya memberikan akhir yang menggantung. Dan itu membuat cerita pendek ini sangat menarik dan dapat diteruskan sebagai sebuah cerita yang panjang. Jelasnya silakan baca buku dan ceritanya secara lengkap.
Meskipun menghadirkan berbagai cerita cinta istimewa dengan beragam rasa, bukan berarti buku ini bebas dari hal-hal yang bisa dikritisi. Sedikit salah ketik di beberapa bagian sangat wajar untuk sebuah buku apalagi jumlahnya hanya sedikit. Tapi beberapa dialog dan ungkapan saya rasa kurang pas dengan tokoh, suasana atau maksud yang ingin disampaikan. Contohnya pada cerita Seandainya Aku Bisa Terbang. Dialog “aku mau bobok” rasanya kurang tepat karena kedua tokoh yang terlibat adalah laki-laki. Kesan kurang pas itu juga akan terasa jika kita menyimak suasana yang dibangun sebelum dialog itu dimunculkan.
Masih pada Seandainya Aku Bisa Terbang, petikan langsung “Aku mau ke Melbourne. Rangga, kamu tahu nggak berapa ongkos ke sana ?”. Sepintas tak ada yang salah dalam dialog itu. Dan memang tak ada yang salah. Tapi jika mencermati suasananya, di mana Diaz dan Rangga digambarkan sebagai teman atau sahabat dekat yang sedang saling berbicara, maka penyebutan nama lengkap “Rangga” dalam dialog itu kurang pas, terlalu formal. Nama Rangga mungkin cukup disebut dengan “Ngga” saja.
Hal yang mirip juga dijumpai pada bagian akhir Tak Sebebas Merpati. “Dan kau tetap boleh terbang tinggi sebagaimana merpati, meski tentu saja, tak sebebas merpati”. Kata merpati rasanya kurang cocok diulang mengingat kalimat ini sebenarnya menunjukkan pertentangan. Tanpa bermaksud mengubah urutan makna, kalimat itu mungkin akan lebih pas jika ditulis : “Dan kau tetap boleh terbang tinggi, meski tentu saja, tak sebebas merpati”.
Selain itu beberapa cerita juga mempunyai konflik yang terlalu datar. Emosi yang terbangun juga cenderung biasa-biasa saja. Kesan ini dapat dirasakan pada Sampai Nanti. Ada juga beberapa cerita yang justru kebalikannya. Lompatan konflik dan emosinya terlalu cepat. Kesan ini ada pada Mantan Terindah. Kesan serupa sebenarnya juga ada pada cerita Bila Saya. Tapi dalam Bila Saya hal itu justru membuat menarik karena menghadirkan akhir cerita yang tak terduga, ceritanya pun menjadi lebih elegan. Sementara pada Mantan Terindah sejak awal, ending cerita ini sudah teraba. Pada Seandainya Aku Bisa Terbang, lompatan cerita membuat kisah ini seperti bercerita tentang 2 kisah berbeda yang dituturkan secara bergantian. Padahal obyek utama cerita itu hanya satu, yaitu Rangga dan Dona. Kesan membingungkan juga terasa karena di awal cerita terdapat pengantar yang dicetak tebal dan itu menceritakan tentang Diaz dan Yuke.
Mengenai kekurangan buku ini setiap pembaca mungkin dapat mempunyai pendapat masing-masing ketika membacanya. Bisa jadi ada yang menilai desain sampul yang terlalu “sederhana”. Meski penggemar novel, khususnya terbitan Gramedia mungkin tak heran. Sampul yang sederhana adalah menjadi salah satu ciri novel-novel Gramedia. Misalnya novel-novel laris Mira W. Dan bagi KAHITNA, kesederhanaan sesuai dengan identitas mereka. Kederhanaan itu justru menunjukkan betapa “mewah” dan “istimewa” nya karya KAHITNA yang satu ini.
Dan secara pribadi saya menilai desain sampul ini sudah pas. Yang membuat saya sedikit terganggu justru judulnya. Jika mencermati penempatan kata KEBAHAGIAAN, CINTA dan PERSELINGKUHAN, urutan itu mungkin kurang linier dari segi makna setiap katanya. Apalagi dirangkai dalam judul “DI ANTARA KEBAHAGIAAN, CINTA DAN PERSELINGKUHAN”. Jika maksudnya ingin menuturkan cinta cerita dalam dua dimensi yang berbeda, yaitu cinta indah dan cinta perih, maka saya merasa lebih pas judulnya adalah : “CINTA, DI ANTARA KEBAHAGIAAN DAN PERSELINGKUHAN”.Tapi mungkin itulah cara KAHITNA menyampaikan pesan cintanya. Bukankah dalam lagu-lagunya mereka juga sering menggunakan syair “yang tak biasa” namun istimewa ?.
Di luar itu semua, yang membuat karya ini pantas diapresiasi adalah usaha buku ini dalam melakukan intrepretasi ulang lagu-lagu KAHITNA dengan cara “menyadap” pengalaman – pengalaman beberapa orang. Bukan hal yang sederhana namun rasanya juga bukan hal yang sulit karena lagu-lagu KAHITNA pada dasarya adalah ungkapan dari banyak realita cinta.
Dalam buku ini pembaca dan penggemar KAHITNA diajak menikmati cinta tak lagi sekedar sebagai lantunan nada dan suara. KAHITNA mengajak pembaca untuk merasakan jalinan kisah dan pengalaman hati yang begitu nyata dan menyentuh, tak kalah dengan lagu-lagunya. Singkat kata, DI ANTARA KEBAHAGIAAN, CINTA DAN PERSELINGKUHAN, membawa pikiran dan lamunan kita untuk membayangkan “seandainya aku” dalam berbagai perspektif secara lebih nyata. Seandainya aku terjebak dalam lubang hitam orang ketiga, seandainya aku bisa memilikimu, seandainya dia untukku, dan seandainya aku…….
Dan secara pribadi saya menyukai 5 cerita ini : Aku Dirimu Dirinya, Andai Dia Tahu, Cantik, Bila Saya dan Tak Mampu Mendua.
Buku ini dilengkapi dengan beberapa foto KAHITNA dari berbagai masa yang dicetak berwarna pada lembar glossy. Tak cuma itu, beberapa petikan kalimat cinta juga dituliskan Yovie Widianto di beberapa foto tersebut. Dan untuk yang satu ini saya merasa akan lebih istimewa jika para personel lainnya juga turut menuliskan kalimat cintanya. Sayangnya itu tak ada.
Sebagai sebuah buku yang ditulis oleh orang-orang yang berlatar belakang bukan penulis, karya ini cukup menarik. Ringan dibaca dan dapat menjadi slide berjalan untuk lagu-lagu KAHITNA. Tapi saya menyarankan untuk tidak membaca buku ini sambil mendengarkan lagu-lagu KAHITNA. Karena keduanya meski bercerita cinta, saya anggap sebagai hal yang berbeda, namun tidak terpisah. Keduanya sama-sama manis meski intrepretasinya tak sepenuhnya sama. Satu yang membahayakan jika membaca buku ini sembari mendengarkan lagunya adalah : EFEK GALAU BERTAMBAH BERKALI-KALI LIPAT..heheheh
DI ANTARA KEBAHAGIAAN, CINTA DAN PERSELINGKUHAN adalah karya manis yang tak akan pernah membuat pembacanya merasa rugi telah membuka buku ini. Layak menjadi koleksi penggemar novel dan cerpen cinta serta wajib bagi para soulmateKAHITNA.
Di Antara Kebahagiaan Cinta dan Perselingkuhan adalah :
1. Aku Dirimu Dirinya
2. Andai Dia Tahu
3. Batal Suka
4. Cantik
5. Sampai Nanti
6. Everybody Need Somebody
7. Tak Sebebas Merpati
8. Takkan Terganti
9. Cinta Sudah Lewat
10. Di Rantau
11. Ngga Ngerti
12. Soulmate
13. Katakan Saja
14. Mantan Terindah
15. Mengapa Terlambat
16. Merenda Kasih
17. Permaisuriku
18. Seandainya Aku Bisa Terbang
19. Setahun Kemarin
20. Setelah Malam Ini
21. Suami Terbaik
22. Tak Mampu Mendua
23. Tiamo
24. Untukku
25. Bila Saya

Selamat Membaca

0 komentar:

Posting Komentar

 
My Imaginary © 2013. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top